Sejarah Nagari tuo dalam Monografi nagari Pariangan.

 Muhammad Jamil S.Ag Labai Sampono

Tatkala masa dahulunya berlayarlah ninik moyang kito Sultan maha suri Maharajo Dirajo dengan saudaranya Sultan maharajo alif dan Sultan Maharajo Depang dengan rombongannya sebanyak 99 orang. Ditengah perjalanan pelayaran terjadilah pertikaian. Yakni dalam hati Sultan maharaja Alif tersirat pertanyaan” Mengapa Sultan suri maharaja dirajo diberi oleh ayahnya Sultan Iskandar Zulkarnaen mahkota kerajaan dari emas berlian dan Sultan Maharaja Depang diberi Palano Emas berlian”? Akhirnya Sultan Maharaja Alif juga berkeinginan untuk memiliki Mahkota Emas Berlian itu. Setelah diajak Sultan Maharaja Depang menayampaikan keinginannya kepada Suri Maharaja Diraja maka Sultan Suri maharaja diraja menyuruh Sultan Maharaja Alif dan Sultan Maharaja Depang saling berhadapan sambil membuka telapak tangan terbuka, saat telapak tangan terbuka itulah Sultan Suri Maharaja Diraja menjatuhkan mahkota, namun sayang mahkota tersebut jatuh ke laut. Dari pada memarahi adiknya maka sultan Maharaja Alif disuruh pergi ke Eropa dan sultan maharaja Depang disuruh pergi ke Cino. Dan Sultan Suri Maharaja Diraja tinggal dengan rombongan meneruskan perjalanan ke arah tenggara. Salah seorang pengikutnya adalah Cati Balang Pandai, mereka terus melakukan perjalanan ,” Kalauik banamo aia masin, pulau banamo langkah dewa, taluak banamo aia kambang ditangah lauik sailan”.

Dan akhirnya perjalanan rombongan sampailah dipuncak yang akhirnya diberi nama Merapi. Disana tampaklah Airnya jernih, airnya tawa (tawar) dan aiarnya karuah(keruh). Sudah beberapa lama ninik kita tinggal dipuncak gunung merapi, seperti didalam tambo:

Disusun batang baringin(disusun batang beringin)
Disusun dikabek tigo(disusun ikat tiga)
Dek takuik manahan dingin (karena takut kedinginan)
Mangko manurun kabawah nangko( makanya turun kebawah tersebut)”.
Adapaun yang dimaksud dengan dibawah nangko itu adalah Pariangan sekarang ini.disebutkan:

 “Titisan silampuang lampang
Kagunuang kapatoalo
Kabukik siguntang guntang
Dirusuak banto nan barayun
Dikida batang bangkaweh
Disinanlah galundi nan baselo,
Disinan sirangkak hitam kuku.
Disinan buayo putiah daguak
Iliran lantak tigo luak”.

Tempat ini berbentuk sebuah bukit yang sampai saat ini kita bisa melihat dan menemuinya. Bagi tamu yang datang utuk melihat lebih dekat Nama tempat wisata Sejarah ini memang perlu penuntun (Gaet lokal).
        Semulanya nenek moyang kita tinggal di goa goa batu atau ruang ruang yang bisa ditempati yang disebut juga PARIANGAN. (ada yang mengatakan inilah asal nama pariangan). Kemudian suatu waktu mereka  berburu rusa  setelah ditangkap kemudian dibakar sambil beriang gembira, dan jadilah nama Pariangan..Wallahualam bissawab.

Nagari Pariangan terletak di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia

Sumber:-  Monografi Nagri Pariangan,2015 
              - Tambo, H Datuak Tuah

Komentar

Postingan populer dari blog ini