Sejarah Nagari tuo dalam Monografi nagari Pariangan.
Tatkala masa dahulunya berlayarlah ninik moyang kito
Sultan maha suri Maharajo Dirajo dengan saudaranya Sultan maharajo alif dan
Sultan Maharajo Depang dengan rombongannya sebanyak 99 orang. Ditengah
perjalanan pelayaran terjadilah pertikaian. Yakni dalam hati Sultan maharaja
Alif tersirat pertanyaan” Mengapa Sultan suri maharaja dirajo diberi oleh
ayahnya Sultan Iskandar Zulkarnaen mahkota kerajaan dari emas berlian dan
Sultan Maharaja Depang diberi Palano Emas berlian”? Akhirnya Sultan Maharaja
Alif juga berkeinginan untuk memiliki Mahkota Emas Berlian itu. Setelah diajak
Sultan Maharaja Depang menayampaikan keinginannya kepada Suri Maharaja Diraja
maka Sultan Suri maharaja diraja menyuruh Sultan Maharaja Alif dan Sultan
Maharaja Depang saling berhadapan sambil membuka telapak tangan terbuka, saat
telapak tangan terbuka itulah Sultan Suri Maharaja Diraja menjatuhkan mahkota,
namun sayang mahkota tersebut jatuh ke laut. Dari pada memarahi adiknya maka
sultan Maharaja Alif disuruh pergi ke Eropa dan sultan maharaja Depang disuruh
pergi ke Cino. Dan Sultan Suri Maharaja Diraja tinggal dengan rombongan
meneruskan perjalanan ke arah tenggara. Salah seorang pengikutnya adalah Cati
Balang Pandai, mereka terus melakukan perjalanan ,” Kalauik banamo aia
masin, pulau banamo langkah dewa, taluak banamo aia kambang ditangah lauik
sailan”.
Dan akhirnya perjalanan rombongan sampailah dipuncak
yang akhirnya diberi nama Merapi. Disana tampaklah Airnya jernih, airnya tawa (tawar)
dan aiarnya karuah(keruh). Sudah beberapa lama ninik kita tinggal dipuncak
gunung merapi, seperti didalam tambo:
“Disusun batang baringin(disusun batang beringin)
Disusun dikabek tigo(disusun ikat tiga)
Dek takuik manahan dingin (karena takut kedinginan)
Mangko manurun kabawah nangko( makanya turun kebawah tersebut)”.
Adapaun yang dimaksud dengan dibawah nangko itu adalah Pariangan sekarang
ini.disebutkan:
“Titisan silampuang lampang
Kagunuang kapatoalo
Kabukik siguntang guntang
Dirusuak banto nan barayun
Dikida batang bangkaweh
Disinanlah galundi nan baselo,
Disinan sirangkak hitam kuku.
Disinan buayo putiah daguak
Iliran lantak tigo luak”.
Tempat ini berbentuk sebuah bukit yang sampai saat ini kita bisa melihat
dan menemuinya. Bagi tamu yang datang utuk melihat lebih dekat Nama tempat
wisata Sejarah ini memang perlu penuntun (Gaet lokal).
Semulanya nenek moyang kita tinggal
di goa goa batu atau ruang ruang yang bisa ditempati yang disebut juga
PARIANGAN. (ada yang mengatakan inilah asal nama pariangan). Kemudian suatu
waktu mereka berburu rusa setelah ditangkap kemudian dibakar sambil
beriang gembira, dan jadilah nama Pariangan..Wallahualam bissawab.
Nagari Pariangan terletak di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia
Sumber:- Monografi Nagri Pariangan,2015
- Tambo, H Datuak Tuah
Komentar
Posting Komentar