PEMIMPIN DAN MUSIBAH BANGSA
“Antara Dosa Dan Petaka Corona”
Oleh; Muhamad Jamil Lb Sampono
Bismillahirrahmnirrahiim
            Saudaraku, tidak ada yang kebetulan yang terjadi di bumi ini, karena semua isi bumi dan langit itu Allah yang punya, penguasa dan pengendali. Maka sekecil apapun yang terjadi dialah yang berkuasa. Apapaun nama makhluk nya.
Sekarang merebak virus covid 19, corona yang menghantui masayarakat dunia dalam jangka hitungan hari sudah merambah ke hampir 180 negara. sebagaimana kita ketehui bermula dari wuhan China januari 2020 samapi saat ini maret 2020 sudah merajalela ke hampir seluruh dunia. Sampai tulisan ini diturunkan konon china sudah mulai berhasil mencegah dan menemukan anti virus tersebut. Indnesia kususnya termasuk persentasi tertingi dari 480 kasus, yang meninggal 38 orang (hampir mendekati 10 persen).
Jumlah kesembuhan paling besar tercatat di Provinsi Hubei, China, yang mencapai 58.381. Lalu Iran yang dengan 5.979 pasien.
Mengutip dari gisanddata.maps.arcgis.com, jumlah kematian karena Virus Corona COVID-19 secara global tercatat sebanyak 10.027 jiwa. Terus bertambah setiap hari. 
Dalam data peta penyebaran Virus Corona COVID-19 tersebut, kini ada 160 negara dan wilayah yang terjangkit Virus Corona COVID-19. Sudah termasuk China dan pasien dari Kapal Pesiar Diamond Princess.
Saat ini, Italia, Iran, dan Spanyol tercatat sebagai negara dengan kasus terbesar di luar China dalam data peta Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE.


Urutan Kasus Corona COVID-19 di Dunia


Warga yang dicurigai terinfeksi virus corona atau COVID-19 menunggu untuk mendapat pemeriksaan di pusat medis di Daegu, Korea Selatan, Kamis (20/2/2020). Wali Kota Daegu meminta warganya untuk tidak bepergian. (Lee Moo-ryul/Newsis via AP)
Jumlah kasus infeksi Virus Corona COVID-19 paling besar tercatat di China, yang memiliki 81.193 kasus, dengan jumlah kasus terbesar kedua yang tercatat di Italia yang mencapai 41.035 kasus.
Angka kematian paling besar tercatat di Italia, yang mencapai 3.405 jiwa dan total kematian terbesar kedua berada di Provinsi Hubei, China, yang berjumlah 3.132 jiwa.
Kasus infeksi Virus Corona COVID-19 terbesar ketiga tercatat di Iran, mencapai 18.407 kasus dengan kematian hingga 1.284 jiwa.
Sedangkan kasus terbesar keempat tercatat di Spanyol, menembus 18.077 kasus dengan 833 kematian. 
BAGAIMANA ISLAM MENYIKAPI MUSIABAH INI..?
1.      Musibah datang tatkala banyak terjadi penyimpangan
Allah telah memerintahkan Jibril ‘alaihissalam untuk mengangkat perkampungan kaum Nabi Luth dengan satu sayapnya. Kampung itu dikeruk oleh Jibril lalu diangkat terbang ke langit, sampai-sampai penduduk langit mendengar lolongan anjing kampung tersebut. Kemudian Jibril menjungkirbalikkan kampung tersebut, lalu menghempaskannya ke bumi. Kemudian kampung tersebut dihujani dengan batu. Inilah hukuman bagi kaum Luth (Sodom) yang melakukan penyimpangan seksual dengan sesama jenis (Homo).
Allah berfirman:
فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَـٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةًۭ مِّن سِجِّيلٍۢ مَّنضُودٍۢ
_“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.”_ [Surat Hud (11) ayat 82]
2.      kemaksiatan yang merebak dan sudah dianggap biasa*
Jika aurat dan lekuk tubuh sudah lazim dipamerkan, perzinaan perilaku homo dan lesbi sudah biasa, pornografi jadi koleksi di HP, kezaliman gampang ditutupi dengan sogokan, korupsi mentradisi, kehalalan tidak dihiraukan, miras sudah bebas diperjualbelikan, hura-hura dan begadang sudah lumrah sekalipun shalat subuh ditinggalkan, riba merebak bahkan dihalalkan, judi bola jadi seru-seruan; maka di saat itulah akan turun siksaan yang berlaku merata. Tidak hanya menimpa orang-orang yang bermaksiat saja, tapi juga orang-orang yang shalih dan anak-anak tak berdosa akan kena imbasnya.
Istri Rasulullah, Zainab binti Jahsy pernah bertanya kepada Nabi tentang adzab Allah yang menimpa sementara di sekeliling kita masih ada orang-orang shalih. Rasulullah menjawab:
نعم إذا كثر الخبث
_“Ya (adzab itu tetap akan menimpa), manakala kemaksiatan sudah marak.”_ [al-Bukhari: 3168, Muslim: 2880]
Rasulullah bersabda:
يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمِ الَّذِينَ مَضَوْا وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلَّا أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَئُونَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ إِلَّا مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْلَا الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللَّهِ وَعَهْدَ رَسُولِهِ إِلَّا سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ
_Wahai kaum Muhajirin, ada lima perkara jika kalian mengalami lima perkara ini—dan aku mohon perlindungan kepada Allâh agar kalian tidak mengalaminya–: (1) Tidaklah perbuatan keji (seperti perzinaan, minum khamr, perjudian, dan lainnya) dilakukan dengan terang-terangan pada suatu masyarakat, kecuali akan mewabah penyakit thâ’un dan penyakit-penyakit lainnya yang tidak pernah menimpa orang-orang dahulu yang telah berlalu. (2) Tidaklah mereka berbuat culas (dalam transaksi) dengan mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan disiksa dengan paceklik, kehidupan menyusahkan, dan kezaliman penguasa. (3) Tidaklah mereka menahan zakat hartanya, kecuali hujan dari langit juga akan ditahan dari mereka. Andaikata bukan karena—kasih sayang Allah pada—binatang-binatang melata, niscaya manusia tidak akan diberi hujan. (4) Tidaklah mereka membatalkan perjanjian Allâh dan perjanjian Rasul-Nya (yaitu dengan menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya), melainkan Allah akan menjadikan musuh dari luar mereka (yaitu orang-orang kafir) menguasai mereka dan merampas sebagian hak mereka. (5) Dan selama pemimpin-pemimpin (suatu negeri atau masyarakat) tidak berhukum dengan kitab Allah, dan justru memilah-milih hukum yang Allâh turunkan, kecuali Allah akan menjadikan permusuhan terjadi di antara sesama mereka.”_ [Ibnu Majah: 4019, as-Silsilah ash-Shahihah: 106]
3.      Sombong dan ingkar pada aqidah yang dibawa oleh Rasul*
Orang-orang sombong dari kaum Nabi Shaleh mengatakan (artinya): _”Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”_ [QS. al-A’raaf: 76].
Maka Allah berfirman tentang adzab yang menimpa mereka:
فَأَخَذَتْهُمُ ٱلرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا۟ فِى دَارِهِمْ جَـٰثِمِينَ
_”Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”._ [QS. al-A’raaf: 78]
4.      Bertindak zalim, memutus silaturahmi, khianat, dan dusta*
Rasulullah bersabda:
مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِثْلُ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ
_”Tidak ada suatu dosa yang lebih layak untuk disegerakan hukumannya oleh Allah bagi pelakunya di dunia daripada dosa kezaliman dan memutus silaturahmi, ditambah lagi akan ada hukuman di akhirat yang Allah simpan untuknya.”_ [Abu Dawud: 4902, dishahihkan al-Albani]
Dalam riwayat ath-Thabrani (as-Silsilah as-Shahihah no. 10642) yang semakna dengan hadits ini, terdapat tambahan jenis dosa; dusta dan khianat.
5.       Durhaka
Rasulullah bersabda:
اثنان يعجلهما الله في الدنيا: البغي وعقوق الوالدين
_”Ada dua dosa yang akan disegerakan hukumannya oleh Allah di dunia; kezaliman dan durhaka pada orang tua.”_ [lihat as-Silsilah as-Shahihah no. 1120]
_*Ya Allah, saksikanlah bahwa kami telah menjelaskan dalil kepada umat manusia, mengharapkan manusia mendapatkan hidayah,melepaskan tanggung jawab dihadapan Allah Ta’ala, menyampaikan dan menunaikan kewajiban kami. Selanjutnya, kepadaMu kami berdoa agar menampakkan kebenaran kepada kami dan memudahkan kami untuk mengikutinya*_
_*Itu saja yang dapat Ana sampaikan. Jika benar itu datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Kalau ada yang salah itu dari Ana pribadi, Allah dan RasulNya terbebaskan dari kesalahan itu.*_
_*Sebarkan,Sampaikan,Bagikan artikel ini jika dirasa bermanfaat kepada orang-orang terdekat Anda/Grup Sosmed,dll, Semoga Menjadi Pemberat Timbangan Amal Kebaikan Di Akhirat Kelak.*_
_*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orangyang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)
6.     Membiarkan kemaksiatan terjadi padahal mampu mencegahnya
Bencana juga akan hadir di negeri yang penduduknya tidak melakukan kewajiban nahi mungkar, serta membiarkan perbuatan keji dilakukan tanpa mencoba mencegahnya sama sekali meskipun mereka memiliki kemampuan untuk mencegahnya.
Tidaklah suatu kaum yang di tengah-tengah mereka dilakukan kemaksiatan, sedang mereka mampu mencegahnya, tetapi tidak mau mencegahnya, melainkan Allah akan menimpakan adzab secara merata kepada mereka,” (HR. Abu Dawud)
Mengapa hal ini terjadi? Mengapa kita sebagai muslim tidak diperbolehkan membiarkan saudara kita yang lain berbuat kemungkaran?
Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang-orang yang melanggarnya bagaikan suatu kaum yang berbagi-bagi tempat di sebuah kapal, sebagian dari mereka ada yang mendapatkan bagian atas kapal, dan sebagian lainnya mendapatkan bagian bawahnya. Orang-orang yang berada di bagian bawah kapal, jika hendak mengambil air, melewati orang-orang yang berada di atas mereka. Mereka berkata, “Seandainya kita melubangi bagian kita dari kapal ini, niscaya kita tidak akan mengganggu orang-orang yang berada di atas kita.” Apabila mereka semua membiarkan orang-orang tersebut melaksanakan keinginannya, niscaya mereka semua akan binasa; jika  mereka mencegah orang-orang tersebut, niscaya mereka selamat dan menyelamatkan semuanya,” (HR al-Bukhari).
7.      Salah dalam memilih pemimpin

Dari Abu Hurairah ra berkata; bersabda Rasulullah saw

“Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, beiajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran, membenci ayah, bersuara keras (menjerit jerit) di masjid, orang fasig menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhiaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minum keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa,longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat terjadi).”
(HR. Tirmidzi)

KETIKA terjadi bencana alam, paling tidak ada tiga analisa yang sering diajukan untuk mencari penyebab terjadinya bencana tersebut. Pertama, azab dari Allah karena banyak dosa yang dilakukan. Kedua, sebagai ujian dari Tuhan. Ketiga, Sunnatullahdalamartigejalaalamatauhukum alam yang biasaterjadi. Untuk kasus Indonesia ketiga analisa tersebut semuanya mempunyai kemungkinan yang sama besarnya.
Jika bencana dikaitkan dengan dosa-dosa bangsa ini bisa saja benar, sebab kemaksiatan sudah menjadi kebanggaan baik di tingkat pemimpin (struktural maupun kultural) maupun sebagian rakyatnya, perintah atau ajaran agama banyak yang tidak diindahkan, orang-orang miskin diterlantarkan. Maka ingatlah firman Allah:
 “Jika Kami menghendaki menghancurkan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah (berkedudukan untuk taat kepada Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan daiam negeri tersebut, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya,” (Al-Isra'[17]: 16).
Apabila dikaitkan dengan ujian, bisa jadi sebagai ujian kepada bangsa ini, khususnya kaum Muslimin agar semakin kuat dan teguh keimanannya dan berani untuk menampakkan identitasnya. Sebagaimana firman Allah:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan: Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diujilagi?”( Al-Ankabut [29:2).
Akan tetapi, jika dikaitkan dengan gejala alam pun besar kemungkinannya, karena  bumi Nusantara memang berada di bagian  bumi yang rawan bencana seperti gempa, tsunami dan letusan gunung. Bahkan, secara keseluruhan bumi yang ditempati manusia ini rawan akan terjadinya bencana, sebab hukum alam yang telah ditetapkan Allah SwT atas bumi ini dengan ber bagai hikmah yang terkandung di dalamnya. Seperti pergerakan gunung dengan  berbagai konsekuensinya.
“Dan kamu lihat gunung-gunung itu kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal gunung-gunung itu bergerak sebagaimana awanbergerak.(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.( QS. Al-Naml [27]: 88).
Di samping harus tetap bersikap optimis dan berupaya mengenali hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan atas alam ini, adalah bijak untuk terus melakukan introspeksi terhadap keseriusan kita dalam menaati perintah-perintah Allah SwT dan menghitung-hitung kedurhakaan kita kepada-Nya.Sabda Rasulullah saw yang diriwayat kan Imam Tirmidzi di atas patut menjadi renungan bagi bangsa ini atas berbagai bencana yang menimpa secara bertubi tubi.
Jika kita cermati hampir semua penyebab bencana yang disebut Rasulullah saw dalam Hadits tersebut tengah melanda bangsa ini. Pertama, masalah kepemimpinan, amanah dan penguasa. Jika suatu bangsa memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat, baik (shalih), cakap/cerdas dan kompeten (gawiy) dan amanah (amin), maka kebangkrutan dan kehancuran sebuah  bangsa tinggal menunggu waktu saja. Se bab, pemimpin seperti itu menganggap kekuasaan bukan sebagai amanah untuk menciptakan kesejahteraan dan ketentraman bagirakyatnya, tetapi sebagal sarana dan kesempatan untuk memperkaya diri dan  bersenang-senang.
Akibatnya, perilaku korupsi merajalela, penindasan dan pemiskinan menjadi pemandangan yang lumrah, dan kebangkrutan moral menjadi hal yang sangat sulit untuk dihindari. Oleh karena itu, memilih pemimpin atau pejabat harus hatihati dan selektif, sebab mereka akan memanggul amanah yang sangat berat.
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika amanat disia-siakan, maka tunggulah saatnya (kehancuran). Abu Hurairah bertanya; “Bagaimana amanat itu disia-siakan wahai Rasulullah?, Beliau menjawab,”Jika suatu urusan diserahkan pada orang yang bukan ahlinya (tidak memenuhi syarat)”. ( H R. Bukhari).
Kedua, orang kaya tidak menunaikan kewajibannya. Zakat adalah kewajiban minimal bagi orang kaya untuk peduli kepada orang miskin. Jika kewajiban minimal ini tidak ditunaikan, maka kegoncangan social tdak bisa ditawar-tawarlagi, karena tindakan orang miskin yang terampas haknya tidak bisa dipersalahkan. Sehingga azab Allah menjadi keharusan (Al-Isra': 16). Demikian intisari istinbathAmirul Mu’minin Umar bin Khathab ra yang didukung Ibnu Hazm rahimallahu ta’ala.
Ketiga, hilangnya ketulusan dan kebijakan para ulama dan cendekiawan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh penguasa dan pengusaha (orang kaya) itu akan menjadi-jadi jika ulama/cendekiawan sebagai pilar penting suatu bangsa yang bertugas untuk memberi peringatan dan beroposisi secara loyal terseret ke dalam kepentingan pragmatis para penguasa dan pengusaha tersebut.
Aktualisasinya bisa berwujud pada terbitnya fatwa-fatwa pesanan yang tidak memihak orang-orang lemah dan tertindas serta opini yang menyesatkan dan membingungkan umat sebagai akibat terialu banyak menerima pemberian yang tidak jelas dan sering mengemis pada musuh-musuh Islam dan bangsa pada umumnya. Karena ketulusan telah hilang, para ulama pun menjadi orang yang membuat gaduh di masjid dengan perdebatan dan berbantahan mengenai hal yang sudah diputuskan dengan jelas oleh Allah dan Rasul-Nya.
Pada akhirnya, bukan hanya perintah Allah dan Rasul-Nya yang tidak diperhatikan dan disia-siakan. Akan tetapi para sahabat Rasul dan generasi mereka sesudahnya (ulama dari kalangan tabi’in dantabi’tabi’in)sebagaigenerasiterbaik umat Muhammad saw menjadi bahan olok-olok dan ejekan dalam perbincangan mereka dengan merendahkan dan mencampakkan kezuhudan dan hasil ijtihad mereka yang cemerlang.
Jika ketiga pilar bangsa penguasa, pengusaha dan ulama atau cendekiawan sudah tidak menjalankan fungsi yang semestinya, maka kebangkrutan moral yang lain seperti durhaka pada orangtua, suami yang manut pada hawa nafsu istrinya, mewabahnya khamr (narkoba) dan kesenangan pada hiburan yang memancing keliaran syahwat menjadi pemandangan yang biasa. Pada saatitu”kemarahan” Tuhan dipastikan tidak bias dihalang-halangi untuk menghancurkan bangsa yang durhaka. [sumber: muhammadiyah.or.id]
 Dari Keterangan diatas setidak naya hal penting yang menjadi catatan kita, bahawa dianta akar permasalahan yang memicu datanya bal dar Allah adalah: BANYAK RILAKU MENYIMPANG, DAN KESALAHAN KITA DALM MEMILIH PEMIMPIN. DAN  AKANDATANG PETAKA YANG BELUM PERNAH TERJADI SEBELUMNYA, akan terjadi hawa panas, gempa,longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat terjadi).”(HR. Tirmidzi)
Mari Kita berlindung Kepada Allah..


Padang panjang, 24 Maret 2020

Muhammad Jamil S.Ag( Sekretaris Ikatan Muballigh Pabasko).

Ctt, Dari Berbagai sumber.

Komentar

Postingan populer dari blog ini